Ketika awal menikah, rasanya punya mobil adalah impian yang jauh tercapai. Ketika banyak orang menggoda saya dan suami untuk punya mobil, cuma dijawab, “Masih di pabriknya tuh mobil kami!” Ternyata, alhamdulillah, menjelang kelahiran Zahra, kami punya juga mobil. Mobil yang dipilih karena pertimbangan hemat BBM dan juga untuk memudahkan gerak kami.
Tapi, bulan lalu mobil kami mengalami kecelakaan. Untung kami sekeluarga selamat meski mobil rusak berat. Sampai sekarang mobil kami masih di bengkel. Perbaikannya cukup lama.
Sejak mobil di bengkel dan motor kami sudah tidak ada, maka praktis kami jarang ke mana-mana. Cuma, hari ini karena sudah ingin jalan-jalan ke toko buku, akhirnya saya dan Zahra keluar rumah juga. Janjian ketemu dengan suami di kantor, dengan mulus saya naik ojek dari rumah. Lumayan ongkosnya, 10 ribu rupiah.
Ojeknya sendiri tidak istimewa. Cuma, saya paling terkesan dengan pemandangan yang saya lihat sepanjang perjalanan. Sepertinya beda dengan ketika naik mobil. Pemandangan itu yang membuat saya sepanjang perjalanan jadi senyam-senyum sendiri. Pohon terlihat hijau sekali, sawah terlihat luas, jalan terlihat lenggang meski banyak kendaraan, semua terlihat indah. Mungkin, efek dari tidak keluar rumah. Ibaratnya saya keluar tempurung, hehe. Selama perjalanan banyak ide yang melintas di kepala saya. Sementara kalau naik mobil, pikiran saya penuh dengan kehati-hatian dalam perjalanan. Maklum lah, jadi navigator suami. Ya .. sepertinya memang lebih menyenangkan naik motor saat ini. Mumpung sedang tidak sering hujan. Mumpung lagi cerah cuacanya. Kalau sudah musim hujan, lain lagi sepertinya pemikiran saya. Mungkin saya akan mengeluh .. duh, kok hujan aja sih? Hehe.
Ya .. meski begitu, saya tetap bersyukur masih bisa keluar rumah, menikmati pemandangan. Kalau mobil sudah beres, mungkin nikmat punya mobil mesti lebih disyukuri. Jangan sampai kecelakaan karena keteledoran lagi.
Recent Comments