Archive for June, 2008

Nonton Yuk

Bulan ini banyak film bagus beredar di bioskop. Saya yang penikmat film, rasanya sudah gatal untuk jalan-jalan ke bioskop. Meski di kamar ada TV + Speaker yang OK + tontonan yang banyak pilihan, tetap saja hati ini pingin nonton film di bioskop.

Meski sudah disediakan beragam pilihan channel TV berlangganan, DVD, dan bahkan internet broadband untuk memuaskan selera nonton, tetap hati ini ingin ke bioskop.

Tapi, kalau liat sikon, ada anak (batita + bayi), sepertinya repot. Apalagi kalau dibawa nonton film serius atau horor. Ga seru deh, sibuk urus anak pas momen seru atau serem. Belum lagi tanggapan penonton lain yang pasti terganggu dengan anak-anak.

Tapi, kalau liat daftar filmnya : Indiana Jones, Prince Caspian-nya Narnia, Kung Fu Panda, … Hiks …

So .. gimana donk? Ajak anak-anak nonton aja gitu? Sayang uangnya kalau nonton filmnya ga sampai tamat. Tapi .. hatiku merengek minta nonton.

Abi .. bisa ga kita nonton berdua aja? Hiks …

Rahma 2 bulan

Hari ini Rahma tepat 2 bulan.

Rahma sudah bisa tersenyum. Senyumnya lucu sekali, apalagi melihat bentuk bibirnya yang persis dengan punya abinya. Hehe.

Rahma juga senang dimandikan dan dilap setelah mandi. Setiap dilap, pasti ada acara ngobrol dulu dengan Rahma.

Rahma secara resmi menjadi “peserta” kuliah S2 MGT di Teknik Elektro ITB. Hehe. Aslinya, Rahma dibawa Ummi ikutan kuliah ke kampus.

Rahma sayang, sabar ya, Nak. Semoga cepat besar. Nanti kalau sudah besar, Ummi ceritakan kalau dulu pas bayi, Rahma ikutan Ummi kuliah S2.

Panggil saya …

Beberapa waktu lalu, teman di kantor bercerita kalau Teteh asuhnya adalah teman seangkatan saya ketika kuliah S1 di ITB dulu. Tetehnya dan saya berteman cukup dekat ketika aktif di lingkungan kampus.

Bagi teman di kantor, ada dilema. Dia ingin memanggil saya “Teteh” seperti dia memanggil teman saya itu. Buat saya terserah saja, mau panggil “Ibu” atau “Teteh” sama saja. Selama panggilannya untuk perempuan, baik, dan tidak menjelekkan saya.

Toh, kalau panggilannya bagus tapi disampaikan dengan tidak baik, artinya tetap saja bisa lain.

Tapi, sejujurnya, panggil “Teteh” lebih diinginkan. Panggilan itu membuat saya terlihat tetap muda. Hehe.

Hitung-hitung

Kalau dihitung-hitung, usia saya sudah 28 tahun. Sudah hampir kepala 3.

Kalau dihitung-hitung, di usia yang sudah 28 tahun, masih banyak waktu yang terlewati sia-sia.

Kalau dihitung-hitung, di usia yang sudah hampir kepala 3 ini, masih banyak cita-cita yang belum tercapai.

Kalau dihitung-hitung, masih banyak kekurangan dalam hidup saya.

Sementara, kalau dihitung-hitung, masih banyak kelalaian saya.

DIhitung-hitung lagi, sedemikian buruknya hidup saya, tapi hitungan rizki saya tidak pernah berkurang.

Hitungan rizki dan kasih Allah SWT demikian berlimpah. Jika mengikuti hitungan pamrih layaknya manusia, mungkin saya tidak bisa hidup sampai hari ini. Jika mengikuti hitungan kalkulator manusia, saya tidak pantas mendapat rahmat Allah sampai hari ini.

Untungnya bagi saya, Allah SWT itu Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pemberi, Maha Pengampun, Maha Kuasa, Maha segalanya. Maka, tanpa hitung-hitung, Allah SWT selalu memberikan yang terbaik bagi saya. Baik kesenangan maupun kesulitan, semuanya karena kasih sayang-Nya pada saya.

Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar!

Puji syukur ke hadirat-Mu ya Allah atas segala nikmat yang Kau berikan pada saya.

Kenalkan …

“Kenalkan, ini suaminya Fina!”

Wajar donk, kalimat itu keluar dari mulut saya jika memperkenalkan suami saya (sendiri) ke orang lain. Tapi kalau yang mengenalkan adalah orang lain ke orang lain? Bingung?

Begini, saya dulu beraktivitas cukup intens di kampus dan SMU. Jadi, teman saya cukup banyak. Atau, bisa dibilang, ada deh yang mengenal saya (duh, sok terkenal banget ya?). Kebetulan teman saya lebih banyak yang kaum adam (maklum, agak tomboi). Sementara, suami saya tipikal orang yang tidak terlalu terbuka dan ramah dengan kaum hawa (kata suami, loh!). Suami sendiri punya aktivitas yang berbeda dengan saya.

Saat ini, suami memiliki hubungan dengan orang-orang yang kebetulan teman-teman saya. Bahkan, beberapa teman sudah lama mengenal saya karena memiliki aktivitas yang sama dulunya. Maka, ketika harus bersinggungan dengan teman dari teman saya (yang masih teman saya juga), dia agak jengah ketika dikenalkan dengan kalimat di atas tadi. Katanya, “Kok dikenalinnya gitu ya? Ga dikasih tahu nama yang dikenalin pula! Kesannya ummi terkenal banget!” Hehe, boleh donk, saya senang karena merasa terkenal.

Menurut saya, it’s OK. Toh, perkenalan tersebut cuma awal dari hubungan yang menilai statusnya sebagai suami saya tapi lebih kepada kemampuan suami. Akhirnya setiap pihak saling tahu dan mengenal. Meski tetap saja statusnya sama – suami saya. Hehe. Yah, semoga perkenalan ini membawa kebaikan untuk semua pihak.

Rahma, 1 bulan, bisa …

Sebenarnya sejak umur 6 hari, Rahma sudah bisa tersenyum. Tapi karena belum berusia 1 bulan, bisa dibilang senyum palsu. Hehe.

Tapi beberapa hari belakangan ini, Rahma sudah bisa benar-benar tersenyum! Ada saat di mana dia mengeluarkan suara a-e-u-o (atau a-u-o) dan tersenyum sambil menatap saya! Wah, senangnya melihat senyumnya yang manis dan lucu, apalagi melihat Rahma yang masih ompong.

Selain tersenyum, Rahma juga sudah bisa mengangkat kepalanya ke atas ketika ditengkurapkan. Rahma memang lebih sering ditidurkan tengkurap karena posisi ini lebih nyaman buatnya. Rahma juga sudah bisa mengikuti benda yang bergerak di depan matanya, seperti melihat saya yang berpindah dari kiri ke kanan. Rahma juga sudah bisa bergeser sedikit dari posisi semula dia diletakkan dengan tendangan kakinya.

Apa lagi ya? Oya, Rahma sudah bisa membedakan yang mana ummi-nya. Kalau sedang rewel dan dipegang abi atau dipegang kakaknya, pasti sulit berhenti. Tapi, begitu dipegang ummi, langsung tenang. Rahma juga sudah punya jadwal tidur malam yang panjang. Masih suka bangun tapi tidak membuat ummi begadang seperti ketika Rahma baru lahir.

Alhamdulillah, sudah banyak kemampuan Rahma di usianya yang 1 bulanan. Bayi kecil itu sudah tumbuh, makin besar, dan makin pintar. Tidak terasa ya …

Nintendo Wii

Nintendo Wii = Revolutionary Breakthrough

Ga percaya? Sama donk dengan saya. Hidup saya sudah cukup indah tanpa harus bermain game. Belum lagi rasa malas mengerjakan tantangan game, seperti game adventure buatan Jepang, yang menurut saya menyita waktu banyak. Paling-paling game yang mainkan adalah game yang ringkas dan tidak butuh banyak waktu seperti Minesweeper.

Tapi, begitu suami bawa Wii Remote (wiimote) untuk keperluan riset pekerjaan, rasa penasaran mulai menggelitik saya. Informasi seputar Wii dan game-nya menambah penasaran saya. Akhirnya, pekan kemarin, resmi pula membeli Wii console dan berbonus 10 game.

Euforia akan keberadaan Wii membuat daftar kegiatan kegemaran saya berubah (entah sampai kapan?). Tadinya saya senang menonton siaran tv kabel langganan (yang telah mengubah kegemaran saya nonton film DVD) menjadi tiada hari tanpa main Wii meski hanya sebentar.

Apa sih hebatnya Wii? Menurut saya, Wii mengubah cara bermain yang sudah ada. Dulu kalau lihat teman-teman main Nintendo dan PS, mereka main di depan TV dan pakai controller khusus, yang menurut saya cukup sulit dimainkan. Saya juga tidak berminat main karena selain tidak punya tapi karena memainkan game-nya tidak cukup menarik buat saya. Begitu saya mengenal komputer di akhir SD (masih jaman 286, 386, 486, pokoknya belum Pentium!), saya sudah mulai kenal dengan PC game, seperti PreHistoric, Prince of Persia, FIFA, dan Pool. Tapi, lagi-lagi mainnya di depan layar komputer menggunakan keyboard/mouse/joystick.

Wii game sendiri memainkannya harus di depan layar (TV/monitor) dan memakai Wii Remote (wiimote) dan Nunchuck. Tapi cara memainkan game-nya yang beda. Kalau dulu (misal PS) cukup duduk dan pencet sana sini supaya game-nya bisa jalan. Sekarang, dengan game Wii, ada pergerakan badan supaya bisa main game. At least, pergerakan tangan yang tidak sekedar pencet sana pencet sini.

Saya sering capek memainkan Wii game. Tiap gerakan menghasilkan nilai yang berbeda bahkan untuk game yang sama. Lumayan, ada gerak badan sedikit dengan bermain game. Meskipun saya belum merekomendasikan bermain Wii game untuk pengganti olahraga fitness. Hehe.

Anda tertarik? Baca lebih lanjut tentang Wii langsung dari situsnya : http://www.nintendo.com/wii atau bisa lihat di http://wii.com

Silakan anda cari sendiri di internet seputar Wii.
BTW, saya tidak bermaksud untuk melakukan promosi dan penawaran tentang Wii. Saya bukan penjual Wii. Saya hanya penikmat teknologi Wii. Tantangan buat saya saat ini bukanlah “how to play the Wii game“. Tapi, “how to manage all my time“, supaya bisa ada waktu luang main Wii game di antara kesibukan yang lain. Ada usul?