Archive for August, 2008

Nama yang Pasaran

Setelah cari-cari bahan dan berselancar di internet, saya bosan juga. Iseng saya masukkan nama lengkap saya di google search. Hasilnya, ternyata ada juga yang menggunakan nama Martiningtyas!

Kaget, sedih, tapi senang juga. Ada juga yang pakai nama itu! Hehe.

Cerita kakak saya, pas saya lahir ayah memberikan opsi kepada kakak-kakak saya untuk memilih 1 dari 2 nama, Fina Martiningtyas atau Farah Nirmala. “Kok Nirmala? Kayak yang di majalah Bobo, ga mau.” Jadilah, nama saya Fina Martiningtyas.

Saya kurang tahu asal nama saya. Saya tidak pernah bertanya langsung ke ayah saya. Cuma, ibu saya pernah memberitahu kalau asal nama Martiningtyas itu diambil dari penggalan nama dosen perempuan terpintar yang mengajar ayah.

Kalau mau narsis sedikit, hehe, mungkin artinya buah hati yang lahir di bulan Maret yang kelak menjadi anak yang pintar. Aduh, bagus sekali nama saya. Nama itu memang doa dari orang tua kepada anaknya, jadi, terima kasih ayah ibu atas pemberian doa terbaik kalian dengan memberikan saya nama yang indah.

Mumet Tanda Bete

Pernah ga sih merasakan hari itu tidak ada satupun yang pas dengan keinginan?

Pernah ga sih merasakan bahwa segala sesuatu yang terjadi terasa salah?

Pernah ga sih merasakan tiada gairah beraktivitas karena mumet ga jelas?

Pernah ga?

Lepaskan perasaan mumet itu dari tamu bulanan yang menyebabkan PMS. Tapi, pernah ga dalam satu waktu segala sesuatu terasa memusingkan? Pertanda apakah itu? Pertanda bete? Pertanda kurang persiapan?

Mungkin, karena kita kurang persiapan, kurang bersyukur, kurang perencanaan, maka kita tidak siap menghadapi hari baru. Meski, doa ini selalu meminta yang terbaik dan meminta perlindungan dari keburukan, tetap saja ada cobaan. Hasilnya? Mumet ga jelas …

Wee .. tapi sebagai orang yang moody seperti saya, mungkin momen mumet alias bete ini pasti sering terjadi. Soo .. bagaimana nih menanggulanginya?

Resep paling manjur buat mumet beginian adalah tidur. Resep lainnya adalah lakukan sesuatu yang menyenangkan, bisa jalan-jalan, makan enak, atau main game. Tapi, jangan lupa .. shalat dan doa, minta kejernihan pikiran dan hati. Mungkin, kita kurang bersyukur sehingga mumet menimpa kita.

Tapi, jujur .. kalau alasan supaya saya bisa makan enak adalah mumet, berarti saya sering banget mumet donk. Hehe.

Ingin Jadi Penyiar Radio

Saya ingin menjadi penyiar radio. Saya ini tipe sanguinis, suka tampil di publik. Saya sangat percaya akan kemampuan diri saya untuk membujuk orang (bahkan di saat-saat tertentu saya bisa manipulatif). Sayangnya, fisik saya kurang mendukung (saya akui saya hanya cukup enak dipandang tetapi belum masuk kategori cantik, kecuali untuk suami tercinta). Tapi, suara saya berkebalikan, suara saya sangat jernih! Hahaha, ini terbukti dari jajak pendapat orang-orang yang terpercaya (menurut saya, meski mungkin mereka menilai begitu karena kasihan). Tetapi, jujur saya pernah menjadi pengisi acara Syiar Islami di Radio 8EH ketika Radio 8EH yang di PAU ITB itu menjalin kerja sama dengan GAMAIS ITB (saat itu saya staf Divisi Syiar GAMAIS ITB). Kemudian, ada pengurus ikhwan mengirimkan rekaman salah satu sesi acara Syiar Islami yang kebetulan diisi oleh saya dan 3 akhwat lainnya. Saya tercengang-cengang mendengarkan suara saya! Wah, suara saya persis seperti suara anak SD! Hahaha.

Tapi, kembali ke kekaguman pribadi (narsis ga sih?), saya merasa bahwa sebenarnya saya memiliki potensi dalam bidang lain. Saya memiliki kemampuan berbicara dan suara yang bagus (jika tidak bisa dibilang jelek). Saya juga tidak malu tampil di depan umum. Bahkan, saya senang berbagi informasi dengan orang lain. Jadi, tidak ada salahnya kalau saya punya keinginan jadi penyiar radio.

Sekarang, pertanyaan timbul. Kapan saya mau serius terjun ke dunia siaran radio? Sebenarnya tinggal tunggu waktu dan kesempatan yang ada. Mungkin saat ini belum, tapi insya Allah jika ada, saya akan mencobanya.

Kangen Papa

8 Agustus kemarin, Papa saya berulang tahun ke-68.

30 Juni kemarin, Papa saya sudah meninggalkan saya selama 11 tahun.

Kangen banget deh sama Papa. Duh, saya sudah lupa-lupa ingat wajah Papa saya. Foto-foto yang saya punyai, sudah rusak terkena rembesan air hujan di rumah. Foto-foto lainnya ada di rumah Jakarta. Jadi, praktis saya tidak punya foto Papa lagi.

Saya terlalu sibuk sampai lupa tanggal, kalaupun tahu tanggal saya lupa tanggal itu adalah hari spesial. Tanggal lahir keponakan-keponakan, teteh-teteh, paman, bahkan Mama, saya lupa! Cuma tanggal 8 Agustus itu yang saya tidak lupa.

Hiks, saya kangen Papa. Papa saya itu pintar, rajin, penyayang, sabar, dan pembelajar sejati. Papa saya yang mengajari saya banyak hal termasuk mengenalkan dunia teknologi komputer. Papa saya pokoknya idola saya! Saya kangen banget sama Papa, siapa lagi yang bisa saya ceritakan begitu banyak episode kehidupan selama 11 tahun ini. Mungkin, daftar ceritanya begini:

  1. Masuk jurusan IPA SMU
  2. Hijrah (dulunya, Papa ingin saya hijrah setelah SMU)
  3. Lulus SMU
  4. Lulus SPMB diterima di IF ITB (tidak sesuai harapan saya untuk kuliah di FKUI)
  5. Kuliah di IF ITB
  6. Jualan donat dan jeli di kampus (masa-masa saya tidak lagi mendapat uang bulanan)
  7. Lulus kuliah S1
  8. Kerja (mengajar itu mengasyikkan)
  9. Wirausaha
  10. Menikah (tahunnya melenceng jauh dari harapan ingin menikah selepas SMU, hehe)
  11. Punya anak
  12. Kuliah S2 di EL ITB
  13. Punya anak lagi
  14. Mau lulus S2

Pastinya, di antara itu masih banyak hal yang akan saya bagi. Tapi, rangkaian cerita itu hanya bisa saya sampaikan dalam bentuk doa. Semoga amal ibadah Papa diterima Allah SWT.

At least, di rangkaian doa itu, saya selipkan salam dan rindu untuk Papa. Betapa saya sayang, hormat, berterimakasih, dan rindu teramat sangat dengan Papa saya. Sampai saat ini, saya tidak pernah merasa Papa itu tidak ada. Kenangan teramat indah bersama Papa di 17 tahun kehidupan saya adalah kenangan yang tidak ingin saya ganti atau tukar dengan apapun. Meski, tidak menemani Papa di saat terakhirnya adalah penyesalan terbesar saya. Tapi, sekarang jika melihat kenangan itu, rasanya itulah yang terbaik bagi saya untuk melepas Papa. Papa saya, Dedi Hidayat Yusuf, adalah idola saya sampai kapan pun.

Happy Birthday, Papa, I love you.

Jalan-jalan ke BEC

Tadi sore saya sekeluarga berjalan-jalan ke BEC, pusat elektronik terbesar di Bandung. Rencananya, mau jalan-jalan, melihat-lihat barang-barang elektronik baru, dan tentunya beli-beli kebutuhan seperti pulsa, software game, atau bahkan handphone (handphone saya sudah sangat rusak, butuh yang baru). Tapi, pulang dari sana, tangan ini cuma membawa sekotak Chicken Coconut & Fries dari Clemmons, alias bungkusan makanan dari food court BEC. Ke mana barang-barang yang kami mau beli?

Saya terkejut, karena di antara begitu banyak toko, tidak ada satupun toko yang menjual software game. Kalaupun ada, hanya ada satu toko yang buka, di pojok sebelah lift dekat toilet lantai 2 BEC. Kalaupun ada banyak software-nya, tapi setiap beli di situ, pasti ada masalah dengan installer-nya. Lagipula, melihat harga software game yang begitu tinggi, rasanya memang belum sepadan dengan pengeluaran lain yang mestinya saya dahulukan. Akhirnya, saya memilih tidak membeli apa-apa di toko barang bajakan itu.

Turun ke lantai penjualan handphone dan aksesorisnya. Tidak ada satupun model handphone murah (sesuai budget yang cuma di bawah 1 juta rupiah) menurut hati ini bagus dan tepat untuk keperluan saya. Saya tidak menyatakan anti handphone mahal atau menyatakan saya ini adalah fanatik dengan merek tertentu. Tetapi, saya memilih handphone yang memang saya butuhkan. Sementara, saya tidak mau menyesal membeli handphone karena ketergesa-gesaan. Jadi, saya putuskan hanya melihat-lihat model dan harga handphone yang ada di BEC.

Urusan pulsa handphone yang tidak dibeli, murni karena urusan lupa!

Jadi, urusan jalan-jalan, buat saya tidak apa-apa kalau tidak membawa barang sebagai hasil perjalanan. Malah, saya mendapat gambaran tentang teknologi baru yang sudah beredar di BEC. (Membuat saya ingin mengganti PC saya dengan PC baru yang spesifikasinya high-end, maksudnya dengan quad processor) Saya juga tahu, kisaran harga dari produk-produk elektronik yang dijual di BEC. Tuh, siapa bilang kalau window shopping tidak bermanfaat? (Window shopping ini kebiasaan saya dari SMU, yaitu memuaskan hati melihat beragam buku dan aksesoris sekolah yang imut-imut di Gramedia Matraman)

Tapi, kalau urusan jalan-jalan ke tempat lain, harus direncanakan. Jangan sampai habis waktu tapi tidak menghasilkan apa-apa. Apalagi kalau jalan-jalan membawa seluruh anggota keluarga. Kebayang donk, capeknya kalau sudah jalan-jalan tapi tidak ada yang asyik selama perjalanan. Tul, ga?

Antara Tesis 2 dan Anak

Semester pendek sudah berlalu. Alhamdulillah, selesai semester pendek, berarti saya tinggal kuliah semester 3. Alhamdulillah, akhirnya semua bisa diselesaikan dengan baik. Penutup semester pendek adalah sebuah seminar tesis 1, yang diramaikan oleh 2 angkatan program khusus MGT ITB. Uniknya, itulah seminar yang pesertanya ditambah oleh 1 balita dan 1 bayi, siapa lagi kalau bukan anak saya?

Insya Allah tinggal 1 semester lagi, tesis 2 dan mata kuliah yang mesti diulang! Haha, saya harus mengulang mata kuliah Pemrograman GPU di semester ini. Bukan sesuatu yang membanggakan.

Meski, semester ini kuliah saya sedikit tapi beban tesis yang 6 sks itu berat. Apalagi, sekarang tiap orang sudah punya topik masing-masing. Jadi, pekerjaan akan lebih berat. Bukan berarti mustahil dikerjakan tapi tentu meminta keseriusan hati-pikiran-fisik-waktu yang lebih besar ketimbang tesis 1. Apalagi tesis 1 kemarin masih dikerjakan bersama dalam satu kelompok.

Terbayang di pikiran, tesis 2 ini juga pastinya akan tetap menyita waktu dan perhatian saya dari anak-anak saya. Rahma dan Zahra sudah semakin besar, sudah makin membutuhkan saya sebagai ibunya. Tapi, apa daya, mesti bersabar dan berstrategi untuk menyelesaikan kewajiban akademik saya. Banyak PR yang mesti saya selesaikan begitu kuliah S2 ini selesai.

Zah, Ma, maafkan Ummi ya. Sabar ya, nak.