Archive for September 17th, 2008

Overload

Duh, pusing saya …

Terlalu banyak isi kepala saya. Campur aduk isinya, ada tulisan untuk blog, macam-macam tentang tesis (bahan, tulisan, algoritma, skenario). Jadinya saya malah asyik blogging. Hehe.

Tesis untuk sementara diendapkan dulu. Insya Allah setelah buka puasa nanti saya lanjutkan. Sekarang waktunya beristirahat, ashar, mandi, cari bahan lagi, browsing, plus blogging lagi, hehe.

Facebook vs Friendster

Saya mengenal Friendster sejak September 2004 (berarti pas saya jadi guru di SSC, ketularan murid donk). Dari 4 tahun itu, saya sudah memiliki 328 teman. Sementara saya mengenal Facebook baru beberapa hari, dan saya mulai memiliki teman 32. Saya mulai familiar dengan Facebook, jadi ga ada salahnya kalau saya coba bandingkan Facebook dengan Friendster.

Catatan perbandingan, menurut saya:

  • Tujuan
  • Tampilan
  • Isi
  • Fleksibilitas
  • Kemudahan dipelajari

Tujuan

Keduanya merupakan situs networking.

Tapi sayangnya untuk Friendster, kita kurang bisa mencari teman-teman yang (pernah atau sedang) berhubungan dengan kita. Kesulitan akan terjadi kalau kita tidak tahu atau tidak ingat nama ataupun alamat email teman yang akan kita add. Kenal sih iya, tapi jadi teman di Friendster belum tentu.

Kalau Facebook, kita bisa mencari teman-teman melalui jaring pertemanan dari orang yang sudah menjadi teman kita. Nah, enaknya di situ. Jadi, ga perlu cari-cari nama atau email account teman yang mau kita add, tapi cukup cari lewat jaring pertemanannya. Cuma, memang kalau ada teman yang kita benar-benar ga tahu, berarti kita mesti kenalan dulu, donk. Tak kenal maka .. kenalan!

Tampilan

Untuk tema tampilan Friendster memiliki beberapa pilihan dan bahkan kita bisa memakai tema tampilan buatan kita sendiri. Tapi, tampilannya statik. Sementara Facebook tidak bisa diganti-ganti. Tampilannya lebih mirip blog (bahkan papan iklan) ketimbang detil identitas kita.

Keduanya menggunakan tampilan frame dan kolom. No problem buat saya, selama tampilannya clean, it’s OK. Saya lebih suka liat tampilan profil Friendster saya, lebih clean. Makanya, profil Facebook saya ga mau ditambah macam-macam biar ga pusing liatnya.

Isi

Isi dari profil Friendster dan Facebook sebenarnya sama saja. Keduanya akan menampilkan data pribadi kita, siapa teman kita, dan apa yang ingin kita beritakan ke dunia lewat internet. Tapi, saya lebih suka Facebook. Kenapa? Karena Facebook menawarkan tampilan data pribadi yang lebih detil dari Friendster. Jadi, bisa tahu tuh, teman jaman dulu (hehe, ada gitu teman jadul?) sekarang tinggal di mana, kerja di mana, kuliah apa, sudah married apa belum, dll. Seru, deh.

Fleksibilitas

Untuk urusan fleksibilitas saya belum ngulik-ngulik banget. Tapi, kalau di Facebook, kita bisa lebih bebas berkreasi. Ya, pokoknya lebih dinamis ketimbang Friendster.

Kemudahan dipelajari

Friendster jelas mudah dipelajari. Kita ga perlu habiskan waktu lama untuk memakai fitur standar yang disediakan Friendster. Tapi, kalau untukFacebook, mungkin perlu tambahan waktu. Facebook itu kalau tidak kita kelola dengan baik pastinya jadi papan iklan yang kepenuhan dengan iklan atau aplikasi yang ga jelas. Sementara kalau Friendster, mau diapapun juga ya gitu-gitu aja. Hehe.

Sekali lagi, ini perbandingan menurut saya pribadi. Jangan jadikan ini sebagai acuan untuk anda membuat keputusan atau penilaian kalau salah satu lebih jelek. Toh, barangkali saya lebih condong ke satu hal karena juga belum begitu kenal atau kena euforia barang baru. Hehe.

Jadi, mau pakai Friendster, Facebook, atau keduanya? Terserah anda.

Gembira Browsing

Belakangan tulisan saya banyak ya. Hehe, iya lah, saya punya waktu luang cukup untuk sekedar browsing. Saya ga perlu urus beberes rumah, cucian, masak selama numpang di mertua tersayang. Sebenarnya saya buka internet bukan sekedar blogging, blogwalking, tapi juga browsing bahan untuk tesis. Tesis? Iya, saya kan masih jadi mahasiswa S2 Teknik Elektro di ITB. Semester ini saya cuma ambil SKS tesis dan GPU Programming. Kedua mata kuliah itu tidak ada kuliah di kelas, jadi saya berstatus remote worker (di luar Bandung) beberapa saat. Hehe.

Ngomong-ngomong urusan browsing. Saya seringkali kesulitan mencari bahan yang pas untuk dipelajari (diunduh, dibaca, dipahami) seputar materi tesis. Bukan karena tidak ada. Tapi, karena bahannya begitu banyak. Sebenarnya bukan itu saja, tapi sifat saya yang gampang tertarik dengan sesuatu yang baru juga membuat saya sering tidak bisa menentukan pilihan bahan. Contohnya tadi pagi, begitu melihat ada link untuk physically based modelling and interactive simulation course, saya langsung gembira! Sekedar menatapi urutan dan detil tiap materi, membuat hati ini senang. Wah, semua bahan yang saya butuhkan dijelaskan di kuliah ini! Sebenarnya masih ada link lain untuk interactive physically based simulation. Tapi, di link kuliah itu ada materi untuk sound modelling! Kebetulan, produk tesis saya kan simulator, jadi pas banget deh!

Buat saya, dunia real time physically-based simulator ini adalah baru. Menarik, jelas. Tantangannya cuma di semangat belajar dan mencoba. Alhamdulillah, kalau untuk hardware (PC yang high-end) insya Allah sudah tersedia. Tinggal semangat saya nih yang harus dijaga tetap tinggi.

Ganti Theme

Bosan dengan Blix. Ganti theme sekalian headernya.

Pakai K2-Lite, clean, headernya bisa diganti dan besar pula. Hehe. Header imagenya ambil dari foto yang ada di situs National Geographic. Duh, banyak banget foto bagusnya. Jadi banyakan browsing liat-liat foto deh.

Foto yang dipasang di header adalah kumpulan ikan baracuda. Bagus, ya? Masih ada kandidat foto bagus lainnya yang mau saya pasang. Mungkin, nanti saya ganti-ganti deh headernya.

Suami Main Game Online

Kelamaan di Bogor membuat kemampuan saya tumpul, nih. Ajang diskusi saya dan suami berkurang intensitasnya. Saya sibuk sama aktivitas istirahat (istirahat kok dibilang aktivitas?) sedangkan suami sibuk di depan komputer.

Penasaran dengan apa sih yang dikerjakan suami di depan komputer. Ternyata … Suami saya sibuk banget di depan komputer untuk:

  1. Coding dan coding untuk pekerjaannya
  2. Chatting untuk segala tujuannya
  3. Browsing
  4. Networking via facebook (yang dipromosikannya ke saya)
  5. Main game online (Perfect World)

Untuk urusan yang 1-4 masih bisa dimaklumi. Tapi, urusan yang ke-5, bikin saya was-was nih. Suami saya itu tipikal gamer yang bisa menamatkan game PC dalam beberapa hari (tanpa cheat code). Tapi, sekarang dia sedang keranjingan game online! Halah, game online itu kan seperti tiada tamatnya. Pas main dikira sudah mau tamat, keluarlah update patch terbaru untuk map baru, quest baru, karakter baru, yang pasti membuat pemain gamenya tambah asyik main. Saya khawatir suami lupa waktu.

Tapi, setelah ditanya, diingatkan, dia malah melihat sikon saya yang juga sedang keranjingan blogging. Haha. Terus, katanya, “Kemarin-kemarin juga Ummi asyik main monopoli aja di komputer”. Hehe, kalau itu sih benar. Tapi, untuk game monopolinya sudah saya tutup, soalnya bosen juga main lawan komputer. Udah tahu deh trik-triknya, lagian lebih seru main monopoli sama orang beneran. Kalau blogging, ya .. namanya ada waktu. Ini juga blogging abis subuh pas anak-anak masih tidur. Saat saya sibuk dengan yang lain, juga ga blogging kok.

Setelah diusut, sebenarnya suami saya sedang stres. Main game diharapkan menjadi pelampiasan stresnya. Lagipula, saya tahu kok, suami pasti suatu saat nanti bosan sendiri. Lah, game online mana ada yang ga bosenin. Ga ada tamatnya gitu?

Cuma, saya rindu juga masa-masa diskusi, ngobrol sama suami. Tapi, dia lagi ga mau buat saya bingung juga dengan kesulitannya. Apalagi saya orangnya gampang panik. Pasti deh jadi panjang pikiran saya kalau tahu kesulitan dia. Yang bisa saya lakukan adalah bersabar dan menunggu kapan suami mau cerita lagi.

Atau, barangkali kalau saya ikutan main game Perfect Worldnya ya? Halah, jangan lah. Soalnya saya nanti ikutan keranjingan main game online, lupa sama anak-anak. Hehe …