Pagi tadi saya ditelepon Eteh, kakak pertama saya. Saya pikir pasti ada sesuatu, tumben-tumbenan telepon saya pagi-pagi. Ternyata …
Sepupu saya, Yanti, meninggal dunia dini hari tadi. Berhubung saya sedang di Bogor, saya diminta untuk takziah ke rumah keluarganya. Saya tidak tahu pasti rumahnya di mana, jadi Eteh mengajak saya pergi takziah bersama. Sayangnya saya tidak bisa cepat ke sana, selain tidak tahu tujuan, juga karena mesti mengajak keluarga, dan menunggu Eteh selesai kerja. Insya Allah kalau sudah siap, saya takziah ke Jakarta.
Kemudian, berita duka yang disampaikan Iffah muncul di milis kuliah,
Setelah minggu lalu menjalani operasi otak dan sempat koma saat dirawat di ruang ICU Borromeus, pagi tadi istri tercinta dari bapak Tunggal Mardiono berpulang ke sisi penciptanya.
Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un.
Istri dari dosen saya, Pak Tunggal, meninggal tadi pagi. Entah sakit apa. Sayang, saya tidak bisa takziah ke sana. Saya baru tadi malam menyampaikan ke suami tentang romantisme kisah perkenalan dan pernikahan Pak Tunggal dan istrinya. Ah, rasanya sedih sekali mendengar kabar ini. Pak Tunggal yang kebapakan, yang sering menggendong anak saya, hari ini kehilangan pasangan hidupnya.
Beberapa hari yang lalu, berita duka juga menghampiri teman kuliah saya. Dia kehilangan ibu tercintanya. Teman saya yang selalu ceria dan penuh semangat, ternyata duka menjelangnya. Meski terlihat baik-baik saja, mungkinkah sedih di hatinya mereda?
Yang saya bisa lakukan adalah mendoakan yang pergi dan yang ditinggalkan.
Allahummaghfirlahaa warhamhaa wa’afihaa wa’fu anhaa.
Allahumma laa tahrimnaa ajrahaa walaa taftinnaa ba’dahaa waghfirlanaa wa lahaa.Aamiin.
0 Responses to “Berita Duka”