Archive for the 'Keluarga' Category

Sekolah Keluarga

Melihat postingan saya sebelumnya, saya baru sadar kalau sebenarnya saya dan semua kakak saya pernah bersekolah di sekolah yang sama. Kami berempat sama-sama sekolah di SD Strada Wiyatasana dan SMUN 8 Jakarta. Kalau SMP sama-sama di daerah utara dari Jakarta Selatan. Kalau Eteh dan Teh Fifi di SMPN 3 (Manggarai Utara) Jakarta, Akang di SMPN 73 (Tebet Timur) Jakarta, saya di SMPN 115 (Tebet Utara) Jakarta. Masuk ke SMUN 8 Jakarta itu sebenarnya biasa, tapi jadi luar biasa karena SMUN 8 Jakarta itu sekolah unggulan DKI Jakarta! Wah, bukannya sombong, tapi memang begitu. Bahkan, kabar terakhir yang saya dengar, SMUN 8 Jakarta itu sekolah unggulan nasional ya? Hmm .. saya jadi bangga pernah sekolah di situ. Tapi, memang lulus dari SMUN 8 bukan berarti kita pasti sukses. Untuk jadi orang sukses atau tidak, jadi orang pintar atau tidak, itu kan pilihan hidup masing-masing. Jadi, kesuksesan seseorang memang tidak dilihat dari mana dia bersekolah tapi pribadinya sendiri.

Soo .. gitu deh cerita tentang sekolah keluarga saya. Untungnya buat saya, jarak saya dengan Teh Fifi cukup jauh, 6 tahun. Jadi, cerita tentang kakak-kakak saya cuma saya dengar dari guru-guru, itupun kalau mereka masih ingat. Kalau kakak-kakak saya kan susul-susulan sekolahnya, masuk dan lulusnya berurutan. Jadi, kebayang donk rasanya kakak beradik sekolah bareng? Hehe, yang pasti sih kalau Papa mudah mengantar mereka. Tinggal drop ke 1 sekolah, pada turun deh bertiga.

Go ASI!

Jika kita sering menonton TV, terutama ibu-ibu, pastilah sering melihat iklan susu formula di jeda tontonan. Formulasi dari susu sapi dan susu kedelai itu diklaim baik untuk tumbuh kembang anak. Saya sih tidak terlalu terganggu dengan visualisasi susunya, tapi informasi yang disampaikan dalam iklan itu sangat mengganggu saya. Bukan sekedar mengklaim susu baik untuk tumbunh kembang anak, tapi klaim itu sering dilebih-lebihkan sehingga terkesan susu formula lebih baik dari susu ASI! Saya gemas dan geram, sebagai ibu dari 1 batita dan 1 bayi, karena iklan itu sangat menyesatkan. Iklannya selalu menampilkan anak yang “terlihat” cerdas, aktif, badan padat berisi, memiliki nafsu makan yang baik, dll. Hmm .. iklan itu menampilkan solusi dari segala proses tumbuh kembang anak, yaitu minum susu formula. Duh, berlebihan sekali dan miris rasanya melihat hal itu. Informasi sesat seperti ini akan membuat anak kita yang merupakan calon penerus bangsa menjadi jauh dari ASI.

Saya sendiri, saat ini masih memberikan ASI eksklusif pada Rahma. Alhamdulillah, meski ASI eksklusif, shaum saya baru batal 1 kali. Rahma juga sehat dan perkembangannya baik. Tapi, memberikan ASI pada anak sendiri bukan tanpa tantangan. Ibu mertua saya, seorang guru, menyarankan saya untuk memberikan pisang ke Zahra ketika dia berumur 2 bulan. Sekarang, beliau juga memaksa saya untuk memberikan makanan kepada Rahma karena Rahma sudah senang memasukkan jari-jari tangan ke dalam mulutnya. Alasannya simpel, “ASInya Ummi kurang tuh, kasih Rahma makanan, atuh!” Adik ipar saya, yang belum menikah, malah memperburuk keadaan. Adik ipar bilang kalau temannya punya bayi berumur 5 bulan dan bayinya gemuk. Saya tanyakan apakah bayi temannya diberikan ASI atau susu formula? Kata adik, begitu yakin, ASI. Ibu mertua yang mendengar informasi itu, semakin rajin menyarankan saya untuk sesegera mungkin memberikan makanan ke Rahma. Jika sudah bosan mendengar paksaan, biasanya saya bilang, “Sabar aja, sebentar lagi juga usia Rahma 6 bulan. Pas 6 bulan nanti juga mulai makan.” Alhamdulillah, suami saya sabar dan mempercayakan sekali urusan pemberian ASI eksklusif kepada saya. Dukungan terbaik seperti inilah yang sangat dibutuhkan ibu-ibu pemberi ASI.

Kembali ke informasi salah seputar susu formula.

ASI itu adalah yang terbaik. Susu formula adalah susu sapi atau susu kedelai yang diformulasikan untuk memiliki kandungan menyerupai ASI. Jadi, kandungannya tidak pas seperti kebutuhan bayi. Jadi, saya pikir, selama ibu tidak mengalami masalah atau kesulitan untuk memberikan ASI, janganlah beralih ke susu formula. Karena selain kandungan ASI yang tepat sesuai kebutuhan bayi, tapi juga pemberian ASI memberikan efek bounding antara ibu dan bayinya. Selain itu ada juga kelebihan-kelebihan lainnya.

Jadi, mau gimana kalau melihat iklan, ditawari susu formula, atau disarankan (DSA) untuk pakai susu formula untuk anak? Ya, jawab saja, “Tidak, terima kasih.” Jika ditanya anaknya dikasih susu apa, jawablah dengan bangga, “ASI!”

Untuk link informasi seputar ASI dan kesehatan anak-ibu bisa dilihat di situs Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia.

Imunisasi Yuk

Belakangan sering terlihat iklan layanan masyarakat di TV tentang LILLima Imunisasi dasar Lengkap. Iklannya menurut saya cukup bagus. Plus ada scene di mana sang ibu dan ayah membawa bayi mereka imunisasi di Posyandu, yang dikatakan imunisasi gratis. Iklan yang bagus, informasinya bagus.

Saya jadi diingatkan untuk kontrol dan imunisasi Rahma. Jadwal imunisasinya bergeser karena pernah terlambat dari jadwal imunisasi. Tapi, jadwal imunisasinya juga berubah karena pindah-pindah DSA. Hmm .. bukan contoh yang baik. “Maafin Ummi ya, Nak.”

Anyway, untuk yang perlu jadwal imunisasi bisa diambil di sini.

Berita Duka

Pagi tadi saya ditelepon Eteh, kakak pertama saya. Saya pikir pasti ada sesuatu, tumben-tumbenan telepon saya pagi-pagi. Ternyata …

Sepupu saya, Yanti, meninggal dunia dini hari tadi. Berhubung saya sedang di Bogor, saya diminta untuk takziah ke rumah keluarganya. Saya tidak tahu pasti rumahnya di mana, jadi Eteh mengajak saya pergi takziah bersama. Sayangnya saya tidak bisa cepat ke sana, selain tidak tahu tujuan, juga karena mesti mengajak keluarga, dan menunggu Eteh selesai kerja. Insya Allah kalau sudah siap, saya takziah ke Jakarta.

Kemudian, berita duka yang disampaikan Iffah muncul di milis kuliah,

Setelah minggu lalu menjalani operasi otak dan sempat koma saat dirawat di ruang ICU Borromeus, pagi tadi istri tercinta dari bapak Tunggal Mardiono berpulang ke sisi penciptanya.

Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un.

Istri dari dosen saya, Pak Tunggal, meninggal tadi pagi. Entah sakit apa. Sayang, saya tidak bisa takziah ke sana. Saya baru tadi malam menyampaikan ke suami tentang romantisme kisah perkenalan dan pernikahan Pak Tunggal dan istrinya. Ah, rasanya sedih sekali mendengar kabar ini. Pak Tunggal yang kebapakan, yang sering menggendong anak saya, hari ini kehilangan pasangan hidupnya.

Beberapa hari yang lalu, berita duka juga menghampiri teman kuliah saya. Dia kehilangan ibu tercintanya. Teman saya yang selalu ceria dan penuh semangat, ternyata duka menjelangnya. Meski terlihat baik-baik saja, mungkinkah sedih di hatinya mereda?

Yang saya bisa lakukan adalah mendoakan yang pergi dan yang ditinggalkan.

Allahummaghfirlahaa warhamhaa wa’afihaa wa’fu anhaa.
Allahumma laa tahrimnaa ajrahaa walaa taftinnaa ba’dahaa waghfirlanaa wa lahaa.

Aamiin.

Suami Main Game Online

Kelamaan di Bogor membuat kemampuan saya tumpul, nih. Ajang diskusi saya dan suami berkurang intensitasnya. Saya sibuk sama aktivitas istirahat (istirahat kok dibilang aktivitas?) sedangkan suami sibuk di depan komputer.

Penasaran dengan apa sih yang dikerjakan suami di depan komputer. Ternyata … Suami saya sibuk banget di depan komputer untuk:

  1. Coding dan coding untuk pekerjaannya
  2. Chatting untuk segala tujuannya
  3. Browsing
  4. Networking via facebook (yang dipromosikannya ke saya)
  5. Main game online (Perfect World)

Untuk urusan yang 1-4 masih bisa dimaklumi. Tapi, urusan yang ke-5, bikin saya was-was nih. Suami saya itu tipikal gamer yang bisa menamatkan game PC dalam beberapa hari (tanpa cheat code). Tapi, sekarang dia sedang keranjingan game online! Halah, game online itu kan seperti tiada tamatnya. Pas main dikira sudah mau tamat, keluarlah update patch terbaru untuk map baru, quest baru, karakter baru, yang pasti membuat pemain gamenya tambah asyik main. Saya khawatir suami lupa waktu.

Tapi, setelah ditanya, diingatkan, dia malah melihat sikon saya yang juga sedang keranjingan blogging. Haha. Terus, katanya, “Kemarin-kemarin juga Ummi asyik main monopoli aja di komputer”. Hehe, kalau itu sih benar. Tapi, untuk game monopolinya sudah saya tutup, soalnya bosen juga main lawan komputer. Udah tahu deh trik-triknya, lagian lebih seru main monopoli sama orang beneran. Kalau blogging, ya .. namanya ada waktu. Ini juga blogging abis subuh pas anak-anak masih tidur. Saat saya sibuk dengan yang lain, juga ga blogging kok.

Setelah diusut, sebenarnya suami saya sedang stres. Main game diharapkan menjadi pelampiasan stresnya. Lagipula, saya tahu kok, suami pasti suatu saat nanti bosan sendiri. Lah, game online mana ada yang ga bosenin. Ga ada tamatnya gitu?

Cuma, saya rindu juga masa-masa diskusi, ngobrol sama suami. Tapi, dia lagi ga mau buat saya bingung juga dengan kesulitannya. Apalagi saya orangnya gampang panik. Pasti deh jadi panjang pikiran saya kalau tahu kesulitan dia. Yang bisa saya lakukan adalah bersabar dan menunggu kapan suami mau cerita lagi.

Atau, barangkali kalau saya ikutan main game Perfect Worldnya ya? Halah, jangan lah. Soalnya saya nanti ikutan keranjingan main game online, lupa sama anak-anak. Hehe …

Keranjingan Ngeblog

Barusan saya bertanya ke suami tentang aplikasi di Facebook. Maklum, masih newbie di Facebook. Hehe.

Tapi, komentarnya pedes juga, “Ummi keranjingan ngeblog nih!”

Masa ya? Perasaan ga keranjingan tuh. Kalau keranjingan pasti tiap hari ditongkrongin blog ini tiap ada waktu luang. Tapi, saya kan jarang menulis di blog ini. Sekalinya menulis di blog, langsung deh keluar banyak tulisannya. Hehe …

Suami protes kayaknya karena dia juga dicuekin sama saya. Lagian, siapa suruh duluan cuek ke saya? Sekalinya saya yang cuek, dia protes.

Kelonin Aku Donk, Mi ..

Rahma, anak saya yang usianya sekarang 5 bulan, sudah bisa merajuk minta dikelonin setiap kali dia mengantuk. Tapi, saya masih belum ngeh untuk urusan ini. Namanya juga bayi, apapun yang dia kehendaki selalu diekspresikan dengan menangis. Rahma menangis pasti salah satunya adalah minta minum ASI, ganti diaper, ganti baju, mandi, digendong, main, terakhir yang dia bisa adalah minta dikelonin.

Tangisannya masih belum bisa saya bedain. Cuma, kalau sudah dicek kondisi badannya OK dan disusuin dia menolak plus badannya meronta-ronta, berarti dia minta dikelonin tidur. Cara keloninnya gampang, tidurkan Rahma dengan posisi tengkurap, temani di sampingnya sambil tiduran juga, tepuk-tepuk punggungnya, dan kipasi dengan angin sepoi-sepoi. Kalau dia sudah mengantuk banget, biasanya ga sampai 10 menit juga sudah lelap. Tapi, kalau masih ada tenaga untuk mainnya, biasanya dia memperhatikan muka saya lekat-lekat, bergerak mencari posisi ternyaman, dan melihat-lihat kipasnya, baru deh .. bobo pulas.

Alhamdulillah, begitu sudah tidur, biasanya tidurnya cukup lama. Jadi, saya bisa lanjutkan tidur .. eh, aktivitas yang lain. Hehe. Lagipula, saya suka sekali melihat ekspresi wajahnya Rahma di saat tidur. Lucu banget, menggemaskan. Perasaan, baru saja saya melahirkan Rahma, tahu-tahu sudah besar.

Anakku Lucu

Alhamdulillah, saya sudah punya 2 putri. Zahra dan Rahma. Keduanya sangat lucu dan cantik. Keduanya sangat pengertian atas kesibukan orang tuanya.

Doa saya, semoga keduanya menjadi muslimah shalihah, penyejuk hati kedua orang tuanya, cerdas dalam kehidupan, dan sukses dunia akhirat. Semoga selalu dalam iman dan kasih sayang Allah SWT.
Untuk mereka saya tidak menjanjikan materi berlimpah, hanya kasih sayang dan curahan ilmu yang bisa saya berikan teriring doa saya selalu untuk mereka.
Jika kelak mereka memiliki saudara laki-laki, mereka tetap akan menjadi anak-anak kebanggaan saya. Sebab, harapan ummat ada pada mereka, muslimah harapan bangsa, penerus da’wah, yang dari mereka akan lahir generasi penerus baru.

Karenanya, besar tantangan saya dan suami untuk mendidik mereka sebaik-baiknya. Semoga Allah SWT selalu memudahkan perjalanan kami dalam kehidupan ini dan dalam mendidik keluarga kami sebaik mungkin.

Duh, jadi serius gini. Intinya, mau berapapun anak yang saya miliki (insya Allah, 6 anak), pastilah semuanya akan saya sayangi, rawat, dan didik sebaik mungkin. Tapi, namanya juga manusia, saya juga pasti ada kekurangan. Jadi, kalau ada yang mau kasih saran dan masukan untuk mendidik anak dan hidup berkeluarga, sila kirim ke saya.

BTW, saya serius kok mau punya 6 anak.

Nama yang Pasaran

Setelah cari-cari bahan dan berselancar di internet, saya bosan juga. Iseng saya masukkan nama lengkap saya di google search. Hasilnya, ternyata ada juga yang menggunakan nama Martiningtyas!

Kaget, sedih, tapi senang juga. Ada juga yang pakai nama itu! Hehe.

Cerita kakak saya, pas saya lahir ayah memberikan opsi kepada kakak-kakak saya untuk memilih 1 dari 2 nama, Fina Martiningtyas atau Farah Nirmala. “Kok Nirmala? Kayak yang di majalah Bobo, ga mau.” Jadilah, nama saya Fina Martiningtyas.

Saya kurang tahu asal nama saya. Saya tidak pernah bertanya langsung ke ayah saya. Cuma, ibu saya pernah memberitahu kalau asal nama Martiningtyas itu diambil dari penggalan nama dosen perempuan terpintar yang mengajar ayah.

Kalau mau narsis sedikit, hehe, mungkin artinya buah hati yang lahir di bulan Maret yang kelak menjadi anak yang pintar. Aduh, bagus sekali nama saya. Nama itu memang doa dari orang tua kepada anaknya, jadi, terima kasih ayah ibu atas pemberian doa terbaik kalian dengan memberikan saya nama yang indah.

Kangen Papa

8 Agustus kemarin, Papa saya berulang tahun ke-68.

30 Juni kemarin, Papa saya sudah meninggalkan saya selama 11 tahun.

Kangen banget deh sama Papa. Duh, saya sudah lupa-lupa ingat wajah Papa saya. Foto-foto yang saya punyai, sudah rusak terkena rembesan air hujan di rumah. Foto-foto lainnya ada di rumah Jakarta. Jadi, praktis saya tidak punya foto Papa lagi.

Saya terlalu sibuk sampai lupa tanggal, kalaupun tahu tanggal saya lupa tanggal itu adalah hari spesial. Tanggal lahir keponakan-keponakan, teteh-teteh, paman, bahkan Mama, saya lupa! Cuma tanggal 8 Agustus itu yang saya tidak lupa.

Hiks, saya kangen Papa. Papa saya itu pintar, rajin, penyayang, sabar, dan pembelajar sejati. Papa saya yang mengajari saya banyak hal termasuk mengenalkan dunia teknologi komputer. Papa saya pokoknya idola saya! Saya kangen banget sama Papa, siapa lagi yang bisa saya ceritakan begitu banyak episode kehidupan selama 11 tahun ini. Mungkin, daftar ceritanya begini:

  1. Masuk jurusan IPA SMU
  2. Hijrah (dulunya, Papa ingin saya hijrah setelah SMU)
  3. Lulus SMU
  4. Lulus SPMB diterima di IF ITB (tidak sesuai harapan saya untuk kuliah di FKUI)
  5. Kuliah di IF ITB
  6. Jualan donat dan jeli di kampus (masa-masa saya tidak lagi mendapat uang bulanan)
  7. Lulus kuliah S1
  8. Kerja (mengajar itu mengasyikkan)
  9. Wirausaha
  10. Menikah (tahunnya melenceng jauh dari harapan ingin menikah selepas SMU, hehe)
  11. Punya anak
  12. Kuliah S2 di EL ITB
  13. Punya anak lagi
  14. Mau lulus S2

Pastinya, di antara itu masih banyak hal yang akan saya bagi. Tapi, rangkaian cerita itu hanya bisa saya sampaikan dalam bentuk doa. Semoga amal ibadah Papa diterima Allah SWT.

At least, di rangkaian doa itu, saya selipkan salam dan rindu untuk Papa. Betapa saya sayang, hormat, berterimakasih, dan rindu teramat sangat dengan Papa saya. Sampai saat ini, saya tidak pernah merasa Papa itu tidak ada. Kenangan teramat indah bersama Papa di 17 tahun kehidupan saya adalah kenangan yang tidak ingin saya ganti atau tukar dengan apapun. Meski, tidak menemani Papa di saat terakhirnya adalah penyesalan terbesar saya. Tapi, sekarang jika melihat kenangan itu, rasanya itulah yang terbaik bagi saya untuk melepas Papa. Papa saya, Dedi Hidayat Yusuf, adalah idola saya sampai kapan pun.

Happy Birthday, Papa, I love you.

Next Page »