Archive for the 'Teknologi' Category

Facebook vs Friendster

Saya mengenal Friendster sejak September 2004 (berarti pas saya jadi guru di SSC, ketularan murid donk). Dari 4 tahun itu, saya sudah memiliki 328 teman. Sementara saya mengenal Facebook baru beberapa hari, dan saya mulai memiliki teman 32. Saya mulai familiar dengan Facebook, jadi ga ada salahnya kalau saya coba bandingkan Facebook dengan Friendster.

Catatan perbandingan, menurut saya:

  • Tujuan
  • Tampilan
  • Isi
  • Fleksibilitas
  • Kemudahan dipelajari

Tujuan

Keduanya merupakan situs networking.

Tapi sayangnya untuk Friendster, kita kurang bisa mencari teman-teman yang (pernah atau sedang) berhubungan dengan kita. Kesulitan akan terjadi kalau kita tidak tahu atau tidak ingat nama ataupun alamat email teman yang akan kita add. Kenal sih iya, tapi jadi teman di Friendster belum tentu.

Kalau Facebook, kita bisa mencari teman-teman melalui jaring pertemanan dari orang yang sudah menjadi teman kita. Nah, enaknya di situ. Jadi, ga perlu cari-cari nama atau email account teman yang mau kita add, tapi cukup cari lewat jaring pertemanannya. Cuma, memang kalau ada teman yang kita benar-benar ga tahu, berarti kita mesti kenalan dulu, donk. Tak kenal maka .. kenalan!

Tampilan

Untuk tema tampilan Friendster memiliki beberapa pilihan dan bahkan kita bisa memakai tema tampilan buatan kita sendiri. Tapi, tampilannya statik. Sementara Facebook tidak bisa diganti-ganti. Tampilannya lebih mirip blog (bahkan papan iklan) ketimbang detil identitas kita.

Keduanya menggunakan tampilan frame dan kolom. No problem buat saya, selama tampilannya clean, it’s OK. Saya lebih suka liat tampilan profil Friendster saya, lebih clean. Makanya, profil Facebook saya ga mau ditambah macam-macam biar ga pusing liatnya.

Isi

Isi dari profil Friendster dan Facebook sebenarnya sama saja. Keduanya akan menampilkan data pribadi kita, siapa teman kita, dan apa yang ingin kita beritakan ke dunia lewat internet. Tapi, saya lebih suka Facebook. Kenapa? Karena Facebook menawarkan tampilan data pribadi yang lebih detil dari Friendster. Jadi, bisa tahu tuh, teman jaman dulu (hehe, ada gitu teman jadul?) sekarang tinggal di mana, kerja di mana, kuliah apa, sudah married apa belum, dll. Seru, deh.

Fleksibilitas

Untuk urusan fleksibilitas saya belum ngulik-ngulik banget. Tapi, kalau di Facebook, kita bisa lebih bebas berkreasi. Ya, pokoknya lebih dinamis ketimbang Friendster.

Kemudahan dipelajari

Friendster jelas mudah dipelajari. Kita ga perlu habiskan waktu lama untuk memakai fitur standar yang disediakan Friendster. Tapi, kalau untukFacebook, mungkin perlu tambahan waktu. Facebook itu kalau tidak kita kelola dengan baik pastinya jadi papan iklan yang kepenuhan dengan iklan atau aplikasi yang ga jelas. Sementara kalau Friendster, mau diapapun juga ya gitu-gitu aja. Hehe.

Sekali lagi, ini perbandingan menurut saya pribadi. Jangan jadikan ini sebagai acuan untuk anda membuat keputusan atau penilaian kalau salah satu lebih jelek. Toh, barangkali saya lebih condong ke satu hal karena juga belum begitu kenal atau kena euforia barang baru. Hehe.

Jadi, mau pakai Friendster, Facebook, atau keduanya? Terserah anda.

Gembira Browsing

Belakangan tulisan saya banyak ya. Hehe, iya lah, saya punya waktu luang cukup untuk sekedar browsing. Saya ga perlu urus beberes rumah, cucian, masak selama numpang di mertua tersayang. Sebenarnya saya buka internet bukan sekedar blogging, blogwalking, tapi juga browsing bahan untuk tesis. Tesis? Iya, saya kan masih jadi mahasiswa S2 Teknik Elektro di ITB. Semester ini saya cuma ambil SKS tesis dan GPU Programming. Kedua mata kuliah itu tidak ada kuliah di kelas, jadi saya berstatus remote worker (di luar Bandung) beberapa saat. Hehe.

Ngomong-ngomong urusan browsing. Saya seringkali kesulitan mencari bahan yang pas untuk dipelajari (diunduh, dibaca, dipahami) seputar materi tesis. Bukan karena tidak ada. Tapi, karena bahannya begitu banyak. Sebenarnya bukan itu saja, tapi sifat saya yang gampang tertarik dengan sesuatu yang baru juga membuat saya sering tidak bisa menentukan pilihan bahan. Contohnya tadi pagi, begitu melihat ada link untuk physically based modelling and interactive simulation course, saya langsung gembira! Sekedar menatapi urutan dan detil tiap materi, membuat hati ini senang. Wah, semua bahan yang saya butuhkan dijelaskan di kuliah ini! Sebenarnya masih ada link lain untuk interactive physically based simulation. Tapi, di link kuliah itu ada materi untuk sound modelling! Kebetulan, produk tesis saya kan simulator, jadi pas banget deh!

Buat saya, dunia real time physically-based simulator ini adalah baru. Menarik, jelas. Tantangannya cuma di semangat belajar dan mencoba. Alhamdulillah, kalau untuk hardware (PC yang high-end) insya Allah sudah tersedia. Tinggal semangat saya nih yang harus dijaga tetap tinggi.

Backup HDD

Tahun lalu, ada HDD eksternal yang selalu jadi tempat penyimpanan backup data-data dari komputer-komputer saya dan suami. HDD eksternal itu akhir tahun lalu jatuh tersenggol oleh suami. HDD eksternal itupun tamat riwayatnya. Suami yang penasaran ingin mengakses data penting di dalamnya malah membuka casingnya dan mencoba untuk membaca data di HDD itu, tapi gagal total.

Sekarang, laptop yang kecil mau ditinggal lagi di Bogor untuk keperluan ibu mertua. Laptop kecil itu punya spesifikasi khusus untuk mengetik dan tidak terlalu pas untuk pekerjaan berat seperti programming. Tapi, saya sudah terlanjur menggunakannya untuk keperluan kuliah S2 saya. Jadilah, saya harus memindahkan semua isi data yang ada di laptop itu ke laptop yang besar.

Cara pemindahan datanya tentu ga bisa pakai CD karena datanya banyak sekali, butuh puluhan CD untuk backup saja. Tekor uang donk, belum juga capek bolak-balik masukin dan keluarin CD ke CD writer di laptop kecil. Tidak bisa pakai DVD karena DVD-RW di laptop besar sedang error dan saya tidak punya DVD writer lainnya. Tidak bisa pakai HDD eksternal karena belum punya pengganti HDD eksternal yang rusak. Dan jelas, ga mungkin pakai flash disk!

Jadi, bagaimana pindahan data? Copy paste each folder via LAN. Haha .. kebayang donk, segitu banyak data dipindah lewat jaringan. Lewat jaringan sering hilang koneksinya .. udah lama nunggu .. eh, gagal juga. Hehe. Emang kudu sabar kalau udah kayak gini.

Tapi, saya memang sudah PERLU banget HDD eksternal. Backup data di komputer adalah salah satu hal penting yang mesti rutin dilakukan bagi para pemilik komputer. Jangan salahkan PLN yang punya layanan listrik byar-pet melulu yang buat alat elektronik cepat rusak. Tapi, salahkan diri sendiri jika data hilang karena tidak pernah membackup data.

Hehe, kejam ya? Ya, gimana. Resiko mesti ditanggun sendiri donk. Apalagi kalau di komputer ada data pekerjaan, kuliah, tesis. Mesti sering dibackup, tuh. Kalau data untuk tulisan-tulisan curhat untuk blog yang hilang, kesal sih kesal, tapi kan ga sampai buat orang stres, kan?

Jalan-jalan ke BEC

Tadi sore saya sekeluarga berjalan-jalan ke BEC, pusat elektronik terbesar di Bandung. Rencananya, mau jalan-jalan, melihat-lihat barang-barang elektronik baru, dan tentunya beli-beli kebutuhan seperti pulsa, software game, atau bahkan handphone (handphone saya sudah sangat rusak, butuh yang baru). Tapi, pulang dari sana, tangan ini cuma membawa sekotak Chicken Coconut & Fries dari Clemmons, alias bungkusan makanan dari food court BEC. Ke mana barang-barang yang kami mau beli?

Saya terkejut, karena di antara begitu banyak toko, tidak ada satupun toko yang menjual software game. Kalaupun ada, hanya ada satu toko yang buka, di pojok sebelah lift dekat toilet lantai 2 BEC. Kalaupun ada banyak software-nya, tapi setiap beli di situ, pasti ada masalah dengan installer-nya. Lagipula, melihat harga software game yang begitu tinggi, rasanya memang belum sepadan dengan pengeluaran lain yang mestinya saya dahulukan. Akhirnya, saya memilih tidak membeli apa-apa di toko barang bajakan itu.

Turun ke lantai penjualan handphone dan aksesorisnya. Tidak ada satupun model handphone murah (sesuai budget yang cuma di bawah 1 juta rupiah) menurut hati ini bagus dan tepat untuk keperluan saya. Saya tidak menyatakan anti handphone mahal atau menyatakan saya ini adalah fanatik dengan merek tertentu. Tetapi, saya memilih handphone yang memang saya butuhkan. Sementara, saya tidak mau menyesal membeli handphone karena ketergesa-gesaan. Jadi, saya putuskan hanya melihat-lihat model dan harga handphone yang ada di BEC.

Urusan pulsa handphone yang tidak dibeli, murni karena urusan lupa!

Jadi, urusan jalan-jalan, buat saya tidak apa-apa kalau tidak membawa barang sebagai hasil perjalanan. Malah, saya mendapat gambaran tentang teknologi baru yang sudah beredar di BEC. (Membuat saya ingin mengganti PC saya dengan PC baru yang spesifikasinya high-end, maksudnya dengan quad processor) Saya juga tahu, kisaran harga dari produk-produk elektronik yang dijual di BEC. Tuh, siapa bilang kalau window shopping tidak bermanfaat? (Window shopping ini kebiasaan saya dari SMU, yaitu memuaskan hati melihat beragam buku dan aksesoris sekolah yang imut-imut di Gramedia Matraman)

Tapi, kalau urusan jalan-jalan ke tempat lain, harus direncanakan. Jangan sampai habis waktu tapi tidak menghasilkan apa-apa. Apalagi kalau jalan-jalan membawa seluruh anggota keluarga. Kebayang donk, capeknya kalau sudah jalan-jalan tapi tidak ada yang asyik selama perjalanan. Tul, ga?

Nintendo Wii

Nintendo Wii = Revolutionary Breakthrough

Ga percaya? Sama donk dengan saya. Hidup saya sudah cukup indah tanpa harus bermain game. Belum lagi rasa malas mengerjakan tantangan game, seperti game adventure buatan Jepang, yang menurut saya menyita waktu banyak. Paling-paling game yang mainkan adalah game yang ringkas dan tidak butuh banyak waktu seperti Minesweeper.

Tapi, begitu suami bawa Wii Remote (wiimote) untuk keperluan riset pekerjaan, rasa penasaran mulai menggelitik saya. Informasi seputar Wii dan game-nya menambah penasaran saya. Akhirnya, pekan kemarin, resmi pula membeli Wii console dan berbonus 10 game.

Euforia akan keberadaan Wii membuat daftar kegiatan kegemaran saya berubah (entah sampai kapan?). Tadinya saya senang menonton siaran tv kabel langganan (yang telah mengubah kegemaran saya nonton film DVD) menjadi tiada hari tanpa main Wii meski hanya sebentar.

Apa sih hebatnya Wii? Menurut saya, Wii mengubah cara bermain yang sudah ada. Dulu kalau lihat teman-teman main Nintendo dan PS, mereka main di depan TV dan pakai controller khusus, yang menurut saya cukup sulit dimainkan. Saya juga tidak berminat main karena selain tidak punya tapi karena memainkan game-nya tidak cukup menarik buat saya. Begitu saya mengenal komputer di akhir SD (masih jaman 286, 386, 486, pokoknya belum Pentium!), saya sudah mulai kenal dengan PC game, seperti PreHistoric, Prince of Persia, FIFA, dan Pool. Tapi, lagi-lagi mainnya di depan layar komputer menggunakan keyboard/mouse/joystick.

Wii game sendiri memainkannya harus di depan layar (TV/monitor) dan memakai Wii Remote (wiimote) dan Nunchuck. Tapi cara memainkan game-nya yang beda. Kalau dulu (misal PS) cukup duduk dan pencet sana sini supaya game-nya bisa jalan. Sekarang, dengan game Wii, ada pergerakan badan supaya bisa main game. At least, pergerakan tangan yang tidak sekedar pencet sana pencet sini.

Saya sering capek memainkan Wii game. Tiap gerakan menghasilkan nilai yang berbeda bahkan untuk game yang sama. Lumayan, ada gerak badan sedikit dengan bermain game. Meskipun saya belum merekomendasikan bermain Wii game untuk pengganti olahraga fitness. Hehe.

Anda tertarik? Baca lebih lanjut tentang Wii langsung dari situsnya : http://www.nintendo.com/wii atau bisa lihat di http://wii.com

Silakan anda cari sendiri di internet seputar Wii.
BTW, saya tidak bermaksud untuk melakukan promosi dan penawaran tentang Wii. Saya bukan penjual Wii. Saya hanya penikmat teknologi Wii. Tantangan buat saya saat ini bukanlah “how to play the Wii game“. Tapi, “how to manage all my time“, supaya bisa ada waktu luang main Wii game di antara kesibukan yang lain. Ada usul?