be wise …

just because you don’t say anything, it doesn’t mean you’re okay.
but, doing the opposite action doesn’t mean that everything is going to be okay.
so be wise … think before you say anything.
sometimes, the best way is to let others deal the same situations like yours to understand you.
#experience is the best teacher

Advertisements

Ayo menulis lagi

Wah, sudah lama blog ini ditinggal. Ayo, kita menulis lagi. Insya Allah banyak hal yang bisa ditulis di blog ini.

Akhir Ramadhan

Sebentar lagi Ramadhan berakhir …

Waktunya ibadah ditingkatkan.

Sedih karena waktu yang tersisa tidaklah banyak. Ramadhan depan belum tentu juga bertemu. Ramadhan kali ini juga spesial karena saya ikutan shaum Ramadhan lagi. Mungkinkah bertemu dengan Ramadhan lain kali? Mungkinkah saya shaum Ramadhan lagi? Hiks …

Sekolah Keluarga

Melihat postingan saya sebelumnya, saya baru sadar kalau sebenarnya saya dan semua kakak saya pernah bersekolah di sekolah yang sama. Kami berempat sama-sama sekolah di SD Strada Wiyatasana dan SMUN 8 Jakarta. Kalau SMP sama-sama di daerah utara dari Jakarta Selatan. Kalau Eteh dan Teh Fifi di SMPN 3 (Manggarai Utara) Jakarta, Akang di SMPN 73 (Tebet Timur) Jakarta, saya di SMPN 115 (Tebet Utara) Jakarta. Masuk ke SMUN 8 Jakarta itu sebenarnya biasa, tapi jadi luar biasa karena SMUN 8 Jakarta itu sekolah unggulan DKI Jakarta! Wah, bukannya sombong, tapi memang begitu. Bahkan, kabar terakhir yang saya dengar, SMUN 8 Jakarta itu sekolah unggulan nasional ya? Hmm .. saya jadi bangga pernah sekolah di situ. Tapi, memang lulus dari SMUN 8 bukan berarti kita pasti sukses. Untuk jadi orang sukses atau tidak, jadi orang pintar atau tidak, itu kan pilihan hidup masing-masing. Jadi, kesuksesan seseorang memang tidak dilihat dari mana dia bersekolah tapi pribadinya sendiri.

Soo .. gitu deh cerita tentang sekolah keluarga saya. Untungnya buat saya, jarak saya dengan Teh Fifi cukup jauh, 6 tahun. Jadi, cerita tentang kakak-kakak saya cuma saya dengar dari guru-guru, itupun kalau mereka masih ingat. Kalau kakak-kakak saya kan susul-susulan sekolahnya, masuk dan lulusnya berurutan. Jadi, kebayang donk rasanya kakak beradik sekolah bareng? Hehe, yang pasti sih kalau Papa mudah mengantar mereka. Tinggal drop ke 1 sekolah, pada turun deh bertiga.

Reuni Emas SMUNDEL Jakarta

Pagi ini setelah saya mengetikkan tugas kuliah mertua, saya mengecek email. Ada beberapa email dari Eteh. Isinya informasi seputar reuni emas SMU kami. Kebetulan, saya dan seluruh kakak saya sekolah di SMU yang sama, SMUN 8 Jakarta. Bahkan, kedua kakak ipar saya juga alumni SMUN 8 Jakarta. Kebetulan, Eteh jadi koordinator angkatan 90. Kalau saya sih, jadi penggembira angkatan 98. Males ah jadi panitia atau koordinator angkatan. Lagian, cukup ada Eteh, informasi reuni pasti tersampaikan ke saya. Hehe.

Sebenarnya informasi seputar reuni emas ini bisa dilihat di situsnya atau di situs alumninya. Tapi, berhubung saya sedang malas pagi ini, saya sekedar lihat-lihat itupun sekilas saja. Hehe.

Acara reuninya masih 2 bulan lagi, tanggal 23 November nanti. Tempatnya di Panti Prajurit Balai Sudirman. Hmm, tempatnya tidak jauh dari rumah di Jakarta. Untuk acaranya saya tinggal barengan sekeluarga, sama Eteh-Mas Mukti (suami Eteh)-Akang. Kalau Teh Fifi sih pasti sama suaminya datang ke acara itu. Cuma, saya bingung nih, kalau suami saya kan bukan alumni SMUN 8 Jakarta, boleh datang ga ya? Terus, kalau ga datang, siapa donk yang jagain anak-anak saya? Anak-anak saya kan aktif, jadi ga mungkin ga dijagain. Tapi, tega juga kalau minta suami ikutan datang cuma buat jadi babysitter sementara saya having fun pas reuni. Hehe …

Untuk reuni ini, saya usahakan datang. Masih 2 bulan lagi, hari Ahad pula. Insya Allah belum ada acara. Cuma, jika ada acara mendesak, misal ada festival game di ITB, mau persiapan sidang tesis, atau sesuatu yang urgent ataupun mendadak, berarti saya tidak bisa datang. Senang juga nih mau ada reuni emas. Kapan lagi bisa kumpul sama alumni yang lain terus silaturahim rame-rame gini? Lagian, reuni emas kan cuma sekali sementara reuni akbar kan bisa kapan aja. Tul, ga?

Go ASI!

Jika kita sering menonton TV, terutama ibu-ibu, pastilah sering melihat iklan susu formula di jeda tontonan. Formulasi dari susu sapi dan susu kedelai itu diklaim baik untuk tumbuh kembang anak. Saya sih tidak terlalu terganggu dengan visualisasi susunya, tapi informasi yang disampaikan dalam iklan itu sangat mengganggu saya. Bukan sekedar mengklaim susu baik untuk tumbunh kembang anak, tapi klaim itu sering dilebih-lebihkan sehingga terkesan susu formula lebih baik dari susu ASI! Saya gemas dan geram, sebagai ibu dari 1 batita dan 1 bayi, karena iklan itu sangat menyesatkan. Iklannya selalu menampilkan anak yang “terlihat” cerdas, aktif, badan padat berisi, memiliki nafsu makan yang baik, dll. Hmm .. iklan itu menampilkan solusi dari segala proses tumbuh kembang anak, yaitu minum susu formula. Duh, berlebihan sekali dan miris rasanya melihat hal itu. Informasi sesat seperti ini akan membuat anak kita yang merupakan calon penerus bangsa menjadi jauh dari ASI.

Saya sendiri, saat ini masih memberikan ASI eksklusif pada Rahma. Alhamdulillah, meski ASI eksklusif, shaum saya baru batal 1 kali. Rahma juga sehat dan perkembangannya baik. Tapi, memberikan ASI pada anak sendiri bukan tanpa tantangan. Ibu mertua saya, seorang guru, menyarankan saya untuk memberikan pisang ke Zahra ketika dia berumur 2 bulan. Sekarang, beliau juga memaksa saya untuk memberikan makanan kepada Rahma karena Rahma sudah senang memasukkan jari-jari tangan ke dalam mulutnya. Alasannya simpel, “ASInya Ummi kurang tuh, kasih Rahma makanan, atuh!” Adik ipar saya, yang belum menikah, malah memperburuk keadaan. Adik ipar bilang kalau temannya punya bayi berumur 5 bulan dan bayinya gemuk. Saya tanyakan apakah bayi temannya diberikan ASI atau susu formula? Kata adik, begitu yakin, ASI. Ibu mertua yang mendengar informasi itu, semakin rajin menyarankan saya untuk sesegera mungkin memberikan makanan ke Rahma. Jika sudah bosan mendengar paksaan, biasanya saya bilang, “Sabar aja, sebentar lagi juga usia Rahma 6 bulan. Pas 6 bulan nanti juga mulai makan.” Alhamdulillah, suami saya sabar dan mempercayakan sekali urusan pemberian ASI eksklusif kepada saya. Dukungan terbaik seperti inilah yang sangat dibutuhkan ibu-ibu pemberi ASI.

Kembali ke informasi salah seputar susu formula.

ASI itu adalah yang terbaik. Susu formula adalah susu sapi atau susu kedelai yang diformulasikan untuk memiliki kandungan menyerupai ASI. Jadi, kandungannya tidak pas seperti kebutuhan bayi. Jadi, saya pikir, selama ibu tidak mengalami masalah atau kesulitan untuk memberikan ASI, janganlah beralih ke susu formula. Karena selain kandungan ASI yang tepat sesuai kebutuhan bayi, tapi juga pemberian ASI memberikan efek bounding antara ibu dan bayinya. Selain itu ada juga kelebihan-kelebihan lainnya.

Jadi, mau gimana kalau melihat iklan, ditawari susu formula, atau disarankan (DSA) untuk pakai susu formula untuk anak? Ya, jawab saja, “Tidak, terima kasih.” Jika ditanya anaknya dikasih susu apa, jawablah dengan bangga, “ASI!”

Untuk link informasi seputar ASI dan kesehatan anak-ibu bisa dilihat di situs Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia.

Imunisasi Yuk

Belakangan sering terlihat iklan layanan masyarakat di TV tentang LILLima Imunisasi dasar Lengkap. Iklannya menurut saya cukup bagus. Plus ada scene di mana sang ibu dan ayah membawa bayi mereka imunisasi di Posyandu, yang dikatakan imunisasi gratis. Iklan yang bagus, informasinya bagus.

Saya jadi diingatkan untuk kontrol dan imunisasi Rahma. Jadwal imunisasinya bergeser karena pernah terlambat dari jadwal imunisasi. Tapi, jadwal imunisasinya juga berubah karena pindah-pindah DSA. Hmm .. bukan contoh yang baik. “Maafin Ummi ya, Nak.”

Anyway, untuk yang perlu jadwal imunisasi bisa diambil di sini.